Home » » Fungsi dan Kebudayaan Batik Indonesia

Fungsi dan Kebudayaan Batik Indonesia



FUNGSI dan BUDAYA BATIK INDONESIA






Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
Dalam kehidupan masyarakat di pusat pemerintahan kerajaan-kerajaan (kraton) Indonesia pada era pra proklamasi kemerdekaan R.I. tahun 1945, seni tradisional sungguhlah berdaya dan sekaligus berjaya. Dalam tata masyarakat kraton tersebut terdapat lapis kelas menengah masyarakat yang diberi tugas oleh raja untuk terus-menerus membina dan mengembangkan seni tradisional. Mereka ini adalah para pujangga dan budayawan kraton, yang digaji, diberi pangkat, dan status kebangsawanan yang cukup tinggi. Melalui tangan-tangan para budayawan-bangsawan kraton inilah sebenarnya telah berlangsung proses pemberdayaan seni tradisional beserta segenap nilai adi-luhungnya selama berabad-abad, secara sistematis, terwaris sinambung turun-temurun dan lestari.
Setiap pola atau corak batik tradisional selalu mengandung nilai-nilai adiluhung, terutama yang bermula dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Ragam hias yang menyusun polanya selalu mempunyai arti filosofi.
Batik untuk upacara mitoni diperlukan enam macam kain batik dan satu macam kain lurik. Batik ini digunakan setelah upacara siraman yang mengawali upacara mitoni (tujuh bulan usia bayi dalam kandungan). Artinya, batik digunakan ketika anak manusia masih dalam kandungan. Calon ibu berganti busana sebanyak tujuh kali dengan pola batik berbeda. Antara lain Sidamulya, Sidaasih, Sidamukti, Sidaluhur, Sidadadi.
Semuanya itu mengandung arti filosofis sendiri-sendiri sesuai dengan macam batik. Selain itu juga diperlukan batik babon angrem yang melambangkan kasih sayang dan kesabaran seorang ibu. Wahyu Tumurun melambangkan permohonan agar selalu mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT. Semen Rama sebagai perlambang agar anak yang dilahirkan nanti mempunyai budi pekerti luhur seperti yang dimiliki raja. ”Sedangkan kain lurik digunakan lurik pola Yuyu Sekandhang adalah lambang harapan agar si anak yang masih di dalam kandungan kelak dikaruniai rizki berlimpah, mempunyai banyak anak seperti yuyu (kepiting). Makna dari upacara mitoni ini agar calon ibu dapat melahirkan dengan mudah dan lancar, semudah pakaian berganti tujuh kali,” ujar Toetti T Soerjanto.

Kain batik juga digunakan dalam upacara memasuki usia dewasa, khusus untuk gadis dalam tarapan (pertama kali menstruasi). Setelah siraman mengenakan kain pola Grompol, lambang permohonan kebahagiaan dan kesejahteraan yang nggrompol selalu dikitari dan disukai oleh teman-temannya. Untuk pemuda, batik digunakan saat khitanan dengan mengenakan batik Parang Pamor yang melambangkan harapan agar setelah dikhitan tumbuh sebagai laki-laki yang cakap dan berbudi luhur, karena telah pecah ‘pamor’-nya.

Dalam upacara perkawinan yang merupakan peristiwa penting, batik juga berperan penting. Antara lain untuk lamaran, siraman, akad nikah dan resepsi. Pada upacara lamaran, batik yang digunakan untuk golongan luhur adalah Parang Rusak atau Parang yang lain. Bagi golongan priyayi, batik yang dikenakan pola Semen dengan latar putih. Untuk golongan kebanyakan, pola batik yang dikenakan latar hitam atau jenis Ceplokan. Pada upacara peningsetan, mengenakan batik Satrya Manah, melambangkan pria tersebut memanah hati calon istrinya. Sementara calon istri mengenakan batik pola Semen Rante yang mengandung arti sanggup diikat dalam suatu perkawinan. Tradisi ini menurut Toetti diambil dari wewarah PB IX sewaktu bertahta. Pada upacara siraman, calon mempelai putri mengenakan kain batik Wahyu Tumurun dan kemben Bangun Tulak, artinya agar kedua mempelai mendapat bimbingan dari Allah SWT dan terhindar dari marabahaya.
Orangtua mempelai mengenakan baik Nitik Cakar dengan harapan agar putra-putrinya kelak dapat mencari nafkah dengan mudah seperti ayam mengais makanan, dan tidak tergantung pada kedua orangtuanya. Dalam upacara ini juga bisa mengenakan batik Wora-wari Tumpuk, melambangkan rezeki yang berlimpah-limpah atau grompol. Menyusul upacara siraman membuat riasan awal paes dan calon mempelai putri mengenakan kain Sawitan yang terdiri kain Kembangan yang sama, baik untuk kebaya maupun kainnya. Kain Kembangan merupakan wastra yang polanya dibuat dengan jahitan-jahitan atau ikatan-ikatan (jumputan) sebagai perintangnya dan kemudian dicelup. Makna kain Sawitan adalah bersih lahir maupun batin, suatu pernyataan keikhlasan untuk mengarungi hidup berumah tangga.

Pada upacara midadareni, yaitu malam sebelum keesokan harinya dilaksanakan upacara akad nikah, calon pengantin pria yang datang berkunjung ke rumah calon mertuanya mengenakan busana Jawi Jangkep, dengan kain batik berpola Semen Rama atau Satriya Wibawa (bagi Kraton Surakarta). Sedangkan untuk masyarakat pada umumnya, kain yang dikenakan adalah Wahyu Tumurun. Untuk akad nikah, calon pria mengenakan batik dengan pola yang berawal dengan Sida. Misalnya Sidamulya, Sidamukti, Sidaluhur tanpa prada bila berpakaian Jawi Jangkep atau Lengenharjan. Makna filosofis Sidamulya, dengan harapan agar hidupnya kelak mulia. Sidaluhur, dapat mencapai kedudukan tinggi jadi panutan masyarakat. Sidaasih, agar dalam hidupnya mendapat kasih sayang dari sesama. Sida-mukti, mempunyai harapan dalam hi-dup mencapai kebahagiaan lahir batin dan mendapat kedudukan terhormat.
Pada busana basahan, dodot yang dikenakan dapat berpola Bondhet yang bermakna bundhet, digambarkan dengan dua tumbuhan yang menjalar dan bertemu ujung-ujungnya, berupa lung-lungan yang melambangkan dua insan yang selalu bergandengan dalam hidup berumah tangga. Busana yang dikenakan mempelai wanita kain Sebagen (Chintz) yang dipakai sebagai atasan maupun bawahan yang bermakna se-perti kain Kembangan saat dihalub-halubi pada malam midadareni.

Acara resepsi yang selalu mengiringi upacara akad nikah, menghadirkan pola-pola batik yang penuh makna, baik bagi kedua mempelai maupun orangtua keduanya. Bagi kedua mempelai, digunakan batik dengan pola-pola saat melaksanakan akad nikah. Bagi kedua orangtua mempelai wanita dipakai batik berpola Truntum atau pola-pola lain yang sama dengan pola yang dikenakan besan. Selain pola-pola batik tersebut bisa digunakan pola Nagaraja atau Srikaton. Nagaraja melambangkan harapan agar dalam kehidupan rumah tangga memperoleh ketentraman, sedangkan Srikaton merupakan pola jenis Lung-lungan ini melambangkan kelebihan seseorang, bahwa pemakainya tampak kelebihannya dalam pandangan orang lain.
Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisional dengan ciri kekhususannya sendiri.
Perempuan-perempuan Jawa dimasa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian sehingga dimasa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan.
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul dikenal sebagai batik cap atau batik cetak sementara batik tradisional yang diproduksi dengan tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis.
Menurut teknik:
  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik yang dibentuk dengan cap (biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3  hari.
Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian adat, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari.

Penampakkan batiknya seperti ini…
1. Batik Kampuh Parang Curigo
Batik Kampuh Parang Curigo
Batik Kampuh Parang Curigo
2. Batik Lengko
Lengko
Lengko
3. Batik Lurik
Batik Lurik
Batik Lurik
4. Batik Dringin
Batik Dringin
Batik Dringin
Share this article :

6 komentar:

Resource

TABLE OF CONTENTS



 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. C4T4T4N 4N4K B4NGS4 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger